Seutas Harapan

21.41


Harapan ini mungkin tak selamanya melekat dalam hati
Asalkan hidayah itu masih ada, harapan itu jua akan tetap ada
Ketahuilah iman, mohon tetaplah melekat pada raga yang diamanahkan untukmu
Janganlah kau tinggalkan dia
Bimbinglah dia selalu, hingga ridhaNya datang untuk menemani langkahnya

Tak banyak yang harus dikira
Iman bukanlah hanya pembuktian ucapan dalam setiap kata
Iman jua bukanlah ketakaburan yang terealisasi dalam perbuatan
Asalkan keikhlasan untukNya itu selalu menyertai, maka iman itulah yang sesungguhnya

Ya Illahi Rabbi…
Bimbingan-Mu lah yang sesungguhnya hanya kami harapkan
Mohon jangan buat taman hati kami menjadi gersang
Yang kelak kobaran api-api munafik menghancurkannya
Yang kelak hubuddunya memenuhi tujuan hidupnya
Yang kelak hanya tawa tak bermakna yang menjadi isi di dalamnya
Yang kelak kematian sebagai penghancur segala kenikmatan, teranggap tak akan pernah datang

Ya Illahi Rabbi…
Sesungguhnya, iman dan kesungguhan yang ikhlas hanya untukMu,
Adalah kehendakMu, adalah ketetapanMu
Kami hanya mampu mempertahankannya,
Bila iman dan niat yang ikhlas itu sudah hilang,
Maka tak ada kehendak bagi kami untuk memilikinya lagi
Selain ridhaMu yang akan mengembalikannya…

Tapi, satu harapan kami, adalah
Dapat selalu menggenggamnya di hanif jalanMu
Yang suatu saat nanti
Membawa kami pada kekalnya firdausMu,
membawa kami pada indahnya kasih sayangMu…
Yang jua suatu saat nanti,
Dapat mempertemukan kami dengan Nabi dan RasulMu,
Juga dengan para shahabat dan rawi hadits shahih yang mulia
Yang selalu menjadi tuntunan bagi kami dalam pahitnya kehidupan
Saat kebenaran KitabMu, dan sunnah RasulMu tak lagi dibutuhkan kebanyakan orang…

Jadilah Seshalih Ashabul Kahfi

22.24


 Tercatat sudah, dalam sejarah tujuh pemuda yang beriman
Melarikan diri ke dalam gua demi menyelamatkan iman,
Disangka tidur hanya sehari rupanya 309 tahun,
Zaman bertukar beberapa kurun,
Di bumi bersejarah urdu
.......
Begitulah kuasa Illahi, kepada Ashabul Kahfi
Tiada mustahil di dunia ini, jika kita beriman dan bertaqwa...
(Nasyid Raihan, -Ashabul Kahfi-)

Subhanallah,

Tidakkah ni’mat iman dan taqwa itu adalah keinginan utama kita, sahabat?

Mencintai Allah, mencintai Rasulullah, dan selalu mengharap cinta dan ridhaNya di setiap langkah hidup kita, tidakkah itu sangat membahagiakan dunia dan akhirat kita?

Bukankah Syurga Allah kelak hanya untuk hamba-hambaNya yang beriman dan bertaqwa?

Maka, janganlah kita tiru apa yang tidak pernah Rasulullah contohkan,

Maka, janganlah kita mengikuti trend modern yang kelak hanya merusak akhlak kita,

Dan maka, janganlah kita jual iman kita hanya demi sebuah tujuan keduniawian yang kelak pasti berakhir dan tak ada gunanya,

Jangan sahabat, sungguh kehampaanlah yang kelak akan kita dapat, jika kita menjadikan dunia adalah utama bagi kita.

Ingatlah, akhirat menunggu kita, menunggu kembali ruh kita mengetuk pintu SyurgaNya.

Ingatlah, kelak kita akan bertemu dengan Rabb Yang Maha Agung untuk mempertanggungjawabkan keimanan kita.

Ingatlah, yang dapat duduk di samping Rasulullah ialah ummatnya yang benar - benar ikhlas iman dan taqwanya. Hanyalah yang mencintai Allah dan RasulNya diatas segala yang indah baginya.

 Ingatlah Ummi dan Abi kita, yang tak kenal lelah berdo’a untuk keshalihan kita dan kesuksesan dunia dan akhirat kita. 
Lalu siapa lagi yang akan membalas do’a mereka, saat Allah menghendaki mereka kembali bertemu denganNya, selain kita sendiri? Padahal sebagian Amal Jariyah bagi mereka adalah do’a dari anaknya yang shalih dan shalihah. Maka ingatlah bening mata mereka yang memancarkan setulusnya cinta kepada putra putrinya. Yang tak ingin berbalas untuk cintanya, yang tak ingin berjasa atas do’anya.

Jadilah, yang terlihat indah karena cinta kepadaNya

Jadilah, yang terlihat sempurna karena kecintaan pada RasulNya

Jadilah, seshalih shahabat yang kelak kan bersinggah di samping Rasulullah

Jadilah, seshalih tujuh pemuda yang terus berjuang menyelamatkan iman mereka

Karena, SyurgaNya menunggu hadirnya seseorang yang shalih seperti mereka...

Bingkisan Kecil Cintaku, untukmu Abangku..

22.30


Saat kau lepas,
Hilang asa harapan hambar bagimu
Kami akan tetap disini, menanti kembalimu
Jangan pernah lagi kau tapaki kelamnya masa lalumu,
Karena, kami tak akan membuka catatan hitammu yang dulu..
Dan telah kami siapkan buku putih, untuk menyambutmu kembali
Harapan kami adalah dirimu,
Pelindung, penyayang, penengah, sebagai sang sulung...
Sungguh kemasan takdir ini tidak pernah kita sangka
Namun buah dari bingkisan itu ialah ‘akhirnya kau kembali’
Ingatlah, pundak-pundak kami ialah penyanggamu
Ruang hati kami ialah hamparan luas atas luapan hidupmu
Kaki-kaki kami ialah penopang masa jatuhmu...
Ingatkah engkau, Abangku?
Allah tak akan menakdirkan sebuah peristiwa tanpa hikmah dibaliknya
Allah tak akan menciptakan hambaNya untuk sekedar percobaan hinanya dunia
Allah pula ak akan membiarkan hambaNya letih kehausan iman sendirian...
Maka Dia tunjukkan jalan ini,
Islam kaffah ini, Abangku...
Agar kita tak terjerumus atas indah fatamorgananya
Agar kita tenang atas kekurangan hanya barang-barang dunia
Agar kita, kembali mengingatNya mengkaji indah kalam Al-Qur’anNya..
Sungguh tak akan pernah rugi kita bersyukur,
Tak akan pernah rugi kita beribadah dan bertaqwa
Tak akan pernah rugi kita menghafal Al-Qur’an dan mengikuti jejak RasulNya
Karena, beratnya mengemban amanah iman ini
Buah manisnya adalah Surga,
Seindah dan sebaik-baiknya khusnul khatimah (penutup yang baik)
Ialah kita dapat bertemu dengan Allah,
Dan duduk disamping Rasulullah,
Berkumpul dan berbagi senyuman dalam majelis Surga dengan orang-orang yang beriman,
Dan bertaqwa...
Maka, jadilah seperti mereka
Yang dunia hanya mereka jadikan perantara,
Menuju keridhaanNya
Menjemput indah firdausNya

(Terimakasih Mas, sudah kembali lagi. Semoga Allah selalu menjagamu...)

Cahaya Bagi yang Mencintai

23.48


Siapakah cahaya itu?
Terangnya menyantuni setiap orang saat menatapnya
Lembut hatinya terpancar dari dewasa perangainya
Indah hatinya tersirat dari tatapan kedua mata beningnya
Kemuliaan akhlaqnya terlhat dari santun dan rendah hatinya saat berbicara

Siapa yang akan tahu nantinya kemuliaan hati akan luntur?
Siapa yang dapat menebak, kapankah tenangnya jiwa akan hadir kembali ?
Bahkan yang ingin dipijak tak ingin bersua,
Bahkan yang dipilih berpijak memilih menjauh?

Salahkah tujuan do’a itu Ya Rabb?
Tersirat alamat untuknya yang diharap tetap istiqamah
Rapat telah ia bangun kuasa hati agar tak rapuh menatap kelunturan imannya
Imannya, yang tak lagi dapat menguasai isi hatinya
Jiwa itu yang hanya ia inginkan,
Semburat tangisan yang tak terbukti luapan kata penantian
Teriakan kehilangan yang ia simpan dalam-dalam
Cukupkah menjadi saksi bahwa ini tak akan hanya jadi sebuah impian?

Maka izinkan ia pergi saat tak lagi pantas baginya untuk bersinggah disini
Saat khawatirnya ia akan lunturnya iman karena terlalu lama memahami
Atas berakhirnya waktu, atas ketidakpastian pula,
Dan harapannya yang hancur tak ingin menatap kehancuran hati yang dicintainya

Engkau Yang Maha Mengetahui
Yang mana waktu itu adalah terbaik untuk sebuah perpisahan
Maka, hilangkan harapan tentangnya pula bekas yang tersisa
Adalah sebuah do’a suci untuk kebaikan hidupnya kelak,
Saat ia hanya berharap,
Bertemu dengan sebaik-baik keimanan yang telah Engkau tentukan.

Nadiah Nur Lathifah
October 7 2013 

Selamat Datang

02.37


Kau tahu embun di pucuk daun itu?
pasti tak selamanya akan berada di pucuk itu,
pasti akan jatuh membasahi hamparan pasir dibawahnya..

Kau tahu bunga mawar putih itu?
Tak akan selamanya akan terus putih
pasti kelamaan kan memudar dan berguguran mahkotanya..

Kau tahu awan putih itu?
tiap pergantian kategori musim ia kan berpindah dan menghilang..
sambil terus menanti kapan ia dapat menatap hamparan hijau lagi..

Begitupun aku..
akankah sahabatku selamanya akan duduk disampingku?
akankah selamanya ayah dan ibuku akan berada disisiku?
akankah selamamanya orang yang mencintaiku akan mencintaiku pula?

TIDAK!
Cukupkah ilmu dan amal ini membawaku padaNya?
Siapkah hati ini menuntunku menatap kekuasaanNya?
Sanggupkah raga ini satu-persatu kan berhenti menguacap keburukanku,
sedang Dia adalah saksi haq yang menuntun arah hatiku mengikut?

Maka, maafkanlah kekurangan disini
kesempurnaan tak akan pernah hadir pada hambaNya ini,
dan kekurangan hanyalah datang dari kesalahan jari-jemari ini..
Bagaimana dengan kelebihannya? 
Itu hanya datang dariNya, dan karena kehendakNya...

Nadia
Pagu, August 21 2013


Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images